Sejarah perkaderan dan perubahan kepribadian kader HMI


Kanda Yusuf Maulana Akbari

SEJARAH PERKADERAN DAN PERUBAHAN KEPRIBADIAN KADER HMI

HMI yang sudah memproklamirkan fungsinya sebagai organisasi kader, mau tidak mau menjadikan perkaderan sebagai jantung kehidupan organisasinya. Namun sebetulnya aspek  perkaderan di HMI mulai dibenahi secara serius pada akhir tahun 50-an dimana HMI sudah bertahun-tahun menjalankan peranannya, jadi perkaderan di HMI tidak lahir berbarengan dengan kelahiran HMI itu sendiri, melainkan lahir seiring proses waktu dan perubahan zaman. 
Awalnya hal itu baru mulai terpikirkan oleh para kader HMI (PB HMI) ketika masa kepengurusan Ismail Hasan Metareum (periode 1957-1960), dan masih berupa wacana-wacana yang digulirkan oleh PB HMI sendiri. Ismail Hasan yang merupakan penggagas utama ide perkaderan formal di HMI menginginkan agar HMI tidak menjadi tempat berkumpul orang yang punya kesamaan hoby atau aktivitas saja, tapi menjadi second campus bagi para anggotanya. Selain itu, yang menjadi faktor penting pendorong gagasan diadakannya perkaderan formal di HMI adalah karena waktu itu Ismail Hasan melihat adanya perbedaan aliran pemikiran dalam dinamika pergerakan aktivitas HMI, dimana ada  anggotanya yang punya background lingkungan pesantren dan ada juga yang cenderung sekuler (abangan). Selain itu, dia juga melihat adanya perbedaan para anggotanya dilihat dari sisi lingkungan ormas yang membesarkannya semisal dari kalangan NU, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya. Oleh karenanya, Ismail Hasan  Metareum punya obsesi untuk bisa mengambil persamaan serta mengembangkannya dari para anggota HMI agar mampu menciptakan suatu sinergitas pemikiran dan gerakan hingga menjadi satu kesatuan dalam tubuh HMI yang diharapkan menjadi ciri khas dan karakteristik para kadernya.
Untuk mensinergikan itu, maka difasilitasilah berbagai forum pendidikan dan pelatihan untuk para kader HMI agar bisa mempersatukan visi dan mensinergiskan pemikiran kader HMI. Selain itu, diharapkan agar dengan forum seperti itu bisa menciptakan komunikasi antar kader yang berujung pada terwujudnya ukhuwah islamiyah sesama kader HMI. Dalam suatu kesempatan dia pernah menjelaskan secara detail maksud tujuan dan teknis pelaksanaan dari sistem perkaderan itu, dimana dia mengemukakan perlunya suatu sistem yang bertingkat dalam pelatihan sesuai dengan taraf kemampuan kader, dengan titik tekan (aksentuasinya) materinya pada masalah keorganisasian dan keislaman. Hal inilah yang menjadi dasar dan landasan awal dari sistem perkaderan HMI, karena sejak saat itu perkaderan menjadi trademark dikalangan kader HMI meskipun format yang idealnya belum terwujud.
         Untuk lebih meningkatkan taraf kualitas perkaderan serta membuat suatu format perkaderan ideal yang cocok bagi HMI, maka PB HMI mengutus beberapa anggotanya untuk melakukan pengkajian dan studi banding mengenai masalah tersebut ke beberapa organisasi di luar negeri. Duta-duta HMI itu diantaranya Aisyah Amini, Mahbub Junaedi, Mahmud Yunus, dan Munir Kimin yang berangkat ke Aloka, India. Sedangkan Noersal dan Ibrahim Madilao ke Amerika sekaligus memanfaatkan Undangan Pemerintah AS. Selain ke luar negeri, PB HMI juga melakukan studi banding dan pengkajian secara teoitik dan empirik di dalam negeri. Hasil dari kunjungan dan kajian itu dicurahkan dalam suatu forum lokakarya yang diadakan PB HMI di Baros Sukabumi tahun 1959, khusus membicarakan format perkaderan HMI. Sejak peristiwa itulah HMI sudah mulai mempunyai suatu format baku dalam perkaderan meskipun belum sempurna. Penyempurnaan hasil lokakarya pertama ini dilakukan pada masa kepengurusan Oman Komaruddin (periode 1960-1963) dengan mengadakan forum seminar dan lokakarya perkaderan kedua di Pekalongan tahun 1962. Hasil-hasil forum tersebut kemudian disempurnakan lagi dan disahkan menjadi format perkaderan baku yang mempunyai sistem perkaderan berjenjang pada kongres HMI ke VII tahun 1963 di Jakarta. Sejak saat itulah HMI menjadi organisasi pertama di Indonesia yang mempunyai sistem perkaderan formal yang baku, lengkap dan berjenjang.



Setelah mahasiswa mengikuti Latihan Kader 1 ada perubahan secara akademis dan wawasan yaitu mahasisiwa lebih rajin masuk kelas karena pola yang dibangun ketika mengikuti pelatihan adalah kedisipilnan nya dan selalu hadir tepat pada waktunya dan ini merupakan tercapainya indikator afektif yang ada dalam Term of Refrence, dan keaktifan mahasiswa dikelas, sebelum mengikutLK 1  mahasiswa itu tidak disiplin dan tidak aktif dikelas maka mahasiswa sekarang diperlukan untuk mengikuti LK 1 untuk perubahan secara kepribadian karena diajarkan pada pelatihan LK 1 tentang kedisiplinan, wawasan intelektual dan mental mahasiswa untuk berani berargumen di forum, kelas dan diskusi
        Perubahan kepribadian mahasiswa inilah yang menjadi sorotan penulis untuk  mengkaji lebih dalam mahasiswa yang telah mengikuti LK 1 dan yang belum mengikuti LK 1.
    Pemantapan fungsi pengkaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup yang terpadu antara pemenuhan tugas duniawi dan ukhrowi,iman dan ilmu individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang paling mendasar,
        Atas faktor tersebut, maka HMI menetapkan tujuannnya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4 AD ART HMI yaitu: “ TERBINANYA INSAN AKADEMIS PENCIPTA PENGABDI YANG BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA”.
      Dengan rumusan tersebut, maka pada hakekatnya HMI bukan lah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebalikya HMI secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggotanya-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif
            Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan perubahan. Perubahan mana dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti tidak mencolok. Ada pula perubahan- perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yang berjalan cepat. Perubahan-perubahan hanya dapat diketemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkan dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Seseorang yang tidak sempat menelaah susunan dan kehidupan masyarakat desa di Indonesia misalkan akan berpendapat bahwa masyarakat tersebut statis, tidak maju dan tidak berubah. Pernyataan demikian didasarkan pada pandangan sepintas yang tentu saja kurang mendalam  dan kurang teliti, karena tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertentu sepanjang masa.
        Perubahan- perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga masyarakat, lapisan-lapisan masyarakat,kekuasaaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.
           HMI adalah organisasi perkaderan bahwasahnya keinginan PB HMI terdahulu agar para anggotanya tidak menjadikan HMI sebagai wadah yang satu hoby atau kesamaan aktivitas saja akan tetapi menjadi kampus kedua setelah ruang lingkup akademis, dan tujuan nya adalah ingin mensinergikan atau mengitegrasikan anggota HMI yang mempuyai background yang berbeda seperti NU,Persis,Muhammadiyah, maka dari itu dibutuhkan nya perkaderan formal yang akan berujung pada solideritas keislaman para anggotanya, untuk mengatasi itu maka PB HMI mengutus anggotanya untuk pengkajian dan  studi banding ke luar negeri seperti Mahbub junaedi, Mahmud yunus, Munir kimin, dan lain-lain ke Aloka, India sedangkan Noersal dan Ibrahim ke Amerika, dan melakukan studi banding di Baros Sukabumi tahun 1959 khusus membicarakan format perkaderan HMI. Sejak saat itulah HMI mempunyai format perkaderan secara formal dan baku.
                     
                     DAFTAR PUSTAKA
  -https://adzelgar.wordpress.com/2009/02/06/perkaderan-hmi-dalam-lintasan-sejarah
 -Modul LK 1 Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat,2014,Tangerang Selatan.
 -Soekanto,Soerjono. Sosiologi suatu pengatar. Jakarta, Rajawali Press: 1990.
-Hasan. M Arief Rosyid. Memilih Masa Depan Memaknai HMI di Tengah Perubahan. Jakarta , PB HMI Publishing : 2016.

Komentar